Ada dua tempat yang harus aku kunjungi yaitu Dinas Pertambangan Propinsi Sumatera Utara yang terletak di jalan Setiabudi dan Dinas Kebersihan Pemerintah Kota Medan yang terletak di jalan Pinang Baris.
Perjalana ke Distamben menggunakan armada taxi yang kalau dari penginapan Ibunda dikenakan biaya 40 ribu. Oya, taxi di Medan tidak pernah mengaktifkan argo bahkan taxi yang sekelas Express juga langsung menawarkan harga satuan saat saya mau ke Pinang Baris dari Setiabudi. Padahal kalau dipikir-pikir tidak ada satupun taxi di medan ini yang layak pakai alias mobil tua semua. Kelebihannya hanya satu yaitu full musik. Tapi kalau membaca cerita perjalanan berikutnya kalian justru akan lebih tertarik menggunakan becak motor. Selain praktis juga lebih cepat dan ramah. Cuma ada beberapa yang harus diperhatikan yaitu iritasi mata akibat asap kendaraan dan debu, kemampuan menawar harga, dan kalau hujan lumayan basah.
Di kantor Dinas Pertambangan saya bertemu bapak Suprapto di bagian kesekretariatan yang setelah berbincang-bincang kemudian mempertemukan saya dengan Kabid. Konservasi Energi bapak Ardin Lubis. Beliau membawahi bagian pelelangan pembangkit dari energi baru yang di pimpin oleh bapak Pani. Seharusnya saya bertemu dengan kedua orang tersebut termasuk Kepala Dinas Washington Tambunan. Hanya saja Kadis pada hari itu harus melakukan rapat sampai jam 2 siang. Sedangkan pak pani sedang berada di lapangan sampai tanggal 4 september. Alhasil saya hanya mendapatkan satu lembar data dan 90 menit hasil wawancara. Kondisi tersebut membuat saya harus mencari data melalui sumber yang lain. Salah satu rujukannya adalah kantor BPS dan kantor Inspektorat Provinsi Sumatera Utara. Hanya saja karena lupa untuk menanyakan alamat dan nomor telepon instansi tersebut, rencana kunjungan baru bisa dijalankan besok pagi. Setelah dari Distamben, perjalanan dilanjutkan menuju kantor Dinas Kebersihan terletak di belakang terminal Pinang Baris. Layaknya kantor lama di daerah, dari sisi bangunan dan lahan terlihat kurang terawat. Untungnya saya dapat bertemu dengan Kepala Operasional bapak Brahma Sembiring. Setelah selesai wawancara dan mengambil data mengenai sampah di kota Medan akhirnya saya kembali menuju penginapan. Dari terminal tidak ada angkot yang langsung menuju penginapan, taxi juga sangat jarang. Akhirnya harus dua kali angkot dan diakhiri dengan taxi.
Setelah beristirahat dan mandi, saya berencana ingin mengunjungi tempat-tempat yang menarik di kota Medan. Menggunakan becak motor, saya menuju ke tempat makan daerah Semarang (jalan Selat Panjang) yang penuh dengan masakan China seperti bubur, nasi campur, ikan tauco, fuyung hai, ayam jamur, sop tahu, sop baso ikan, kailan kecap, babi asam manis, kwetiaw dan ifu mie. Ada dua tempat makan yang tidak jauh jaraknya yaitu tempat makan yang mengggunakan babi dan yang tidak. Selain itu, ternyata ada pula lokasi yang banyak pilihan makanannya mulai dari makanan berat sampai makanan ringan yang terletak di jalan Joni atau Menteng daerah sekitar Dinas Kebudayaan. Kantor Dinas Kebudayaannya juga unik karena memiliki arsitektur berupa rumah adat batak.
Saya naik ojek milik bapak Simamora yang tinggal dekat stasiun Makmur. Setelah makan malam saya dibawa keliling ke daerah Petisa dan Merdeka Walk. Tempat yang terakhir ini menurutku sedikit unik karena selain sebagai tempat nongkrong anak muda, terdapat juga arena track jogging yang dilengkapi dengan alat fitness di sekeliling lapangan terbuka. Tidak cuma satu alat tapi banyak. Selain itu terdapat fasilitas Mushola dan balai tempat perkumpulan. Tapi perjalanan sedikit tergangu karena akhir-akhir ini wilayah Medan sering diguyur hujan mulai dari sore sampai malam. Akhirnya jam 8 malam saya kembali ke penginapan. Biaya keseluruhan perjalanan menggunakan becak motor selama 3,5 jam hanya 80 ribu rupiah.
Di petisa ternyata terdapat tempat esek-esek yang menjelma menjadi hotel dimana tiap kamar terdapat wanita dengan tarif “one time” 150ribu. Namanya hotel Sebayak..hati2 loh..
Salam,
Leo Sihombing