Perjalanan di Pulau Samosir

Menyeberang ke pulau Samosir merupakan hukum yang wajib dilakukan saat berada di Parapat. Untuk itu kita perlu menyewa speedboat atau naik perahu. Biayanya bervariasi antara 300-400 ribu PP untuk sewa speedboat. Berikut ini saya menginformasikan daftar tarif angkutan kapal (tapi sekali lagi jangan terpaku dengan daftar harganya, keluarkan kemampuan kalian dalam menawar harga).

• (Parapat – Tomok = 500 ribu) • (Parapat – Tomok – Tuktuk = 600ribu) • (Parapat – Tomok – Ambarita = 750 ribu) • (Parapat – Tomok – Simanindo = 900 ribu) • (Parapat – Tomok – P. Tao = 950 ribu) • (Parapat – Hotspring = 1,2 juta) • (Keliling pulau Samosir = 2,5 juta) • (Sewa per jam = 400 ribu)

Ada beberapa tempat yang unik di pulau Samosir seperti Tomok dengan segudang cerita rakyat dan peningggalan sejarahnya serta wilayah Tuktuk yang merupakan tempat hotel-hotel yang diminati oleh bule/turis asing. Salah satu penginapan di daerah Tuktuk dikelola oleh seorang berasal dari Jerman yang bersuamikan orang asli batak. Wanita tersebut sudah tinggal selama 15 tahun di daerah Parapat dan dikenal oleh masyarakat sekitar sebagai salah satu perintis pelestarian lingkungan di Parapat khususnya danau Toba. Lama perjalanan ke Tomok dengan menggunakan speedboat sekitar 20 menit. Di daerah Tomok terdapat lokasi yang wajib dikunjungi antara lain rumah adat batak tempat dimana Raja Sidabutar menetap, makam Raja Batak Sidabutar beserta keturunannya dan juga museum Batak tempat menyimpan berbagai alat dan perlengkapan yang digunakan sehari-hari. Selain itu Tomok merupakan pusat dari berbagai cinderamata yang dapat dibawa sebagai oleh-oleh seperti baju, hiasan, tas, pernak-pernik, alat musik, patung dan lain sebagainya. Harga yang ditawarkan kepada pembeli bisa 2-3 kali lipat sehingga perlu kemampuan tawar menawar harga. Biaya apabila menggunakan pemandu sebesar 50ribu rupiah. Pemandu ini nantinya akan menjelaskan histori dari setiap tempat yang kita kunjungi.

Salam,

Adolf Leopold Sihombing

Danau Toba

Akhirnya setelah 13 tahun berlalu, untuk pertama kalinya saya kembali menginjakkan kaki di Parapat dengan tujuan berlibur di objek wisata Danau Toba. Rasa kagum terucap tak kala melihat mahakarya Tuhan yang luar biasa. Luas wilayah yang merupakan terbesar di Asia berpadu dengan arus air yang tenang, menjadikan danau Toba seperti sesosok raja yang sangat cool. Pinggiran danau Toba dikelilingi oleh banyak tempat penginapan mulai dari kelas losmen sampai hotel bintang lima. Selain itu terdapat pula beraneka rumah makan dan tempat penjualan souvenir. Hanya saja yang perlu diingat saat memilih penginapan adalah pastikan view mengarah ke danau dan tersedianya fasilitas air, karena walaupun lokasi penginapan yang dekat dengan danau tidak menjamin ketersediaan air yang cukup. Harga penginapan juga bervariasi mulai dari 300ribu sampai dengan 700ribu per malam. Beberapa hotel yang saya rekomendasikan antara lain Hotel Pandu, Hotel Ina dan Beach Hotel. Bagi yang ingin menginap di wilayah Tuk-Tuk, semua penginapan disini masuk dalam rekomendasi saya. Hampir sebagian besar penginapan tidak menggunakan pengkondisi udara (AC) karena cuaca dingin yang ada setelah maghrib. Tetapi menurut saya danau Toba saat ini tidak sedingin tahun 1996, apa mungkin ini efek dari pemanasan global?? (ceilee..). Tetapi saat ini danau Toba terlihat lebih terawat, ini dibuktikan dengan tidak adanya sampah dari kapal yang dibuang ke tengah dan pinggir danau. Memang di sepanjang jalan terdapat toko yang menjual souvenir, tetapi jangan puas dulu karena di daerah Tomok justru masih banyak lagi cinderamata yang dapat diperoleh.

Soal makan jangan pusing dengan urusan haram atau halal, karena di tiap rumah makan atau warung kopi pasti terpampang dengan jelas menu-menu yang disajikan dan peruntukkannya (jadi jangan kuatir tercemar sama “sapi pendek” :) -). Kalau masih ragu juga, terdapat beberapa warung makan padang. Seingat saya hampir sebagian besar biaya perjalan tersedot untuk urusan sehari-hari seperti makan dan belanja, yang mana untuk sekali makan “berat” saja menghabiskan sekitar 30ribu rupiah per orang, sedangkan untuk sarapan pagi yang terdiri dari lontong sayur dan kopi susu dikenakan biaya 11-13ribu. Walaupun kurang etis, lebih baik ditanya dulu harganya biar ga kaget karena tidak ada tawar menawar setelah makanan habis dilahap. Bisa dibayangkan dalam satu hari saya bisa menghabiskan kurang lebih 500 ribu rupiah. Ini sudah diluar biaya penginapan dan transportasi. Luar biasa expensive. Tapi untuk menikmati liburan dengan keindahan alam yang luar biasa tadi, maka harga sebesar ini sepertinya cukup realistis.

Salam,

Adolf Leopold Sihombing

Perjalanan dari Medan menuju Parapat

Perjalanan dari Medan menuju Parapat ditempuh dalam waktu 5 jam menggunakan mobil rental seharga 450 ribu (tentunya merupakan harga keluarga), karena biaya normal untuk rental mobil adalah 600 ribu sudah termasuk biaya supir dan bensin. Lama perjalanan akan berbeda tergantung jenis transportasi yang digunakan. Kalau menggunakan travel, perjalanan ditempuh selama 6 jam dengan biaya 100 ribu. Kapasitas mobil travel sebanyak 10 orang dan bisa lebih padat tergantung jumlah barang yang dibawa. Jadi tinggal disesuaikan saja dengan suasana hati dan anggaran yang ada.

Setelah melewati wilayah Deli Serdang, kita dapat beristirahat sejenak sambil menikmati makan siang di sebuah restoran melayu milik orang Mandailing yang berada di Lubuk Pakam, sekitar 40 menit dari Bandara. Kemudian kita akan melewati pusat jajanan dan oleh-oleh berupa dodol, sirup, ting-ting, asinan dan lain sebagainya yang berada di wilayah pasar Bengkel Parbaungan-Tebing Tinggi. Lanjut membaca

Perjalanan Dinas di Kota Medan (2)

Ada dua tempat yang harus aku kunjungi yaitu Dinas Pertambangan Propinsi Sumatera Utara yang terletak di jalan Setiabudi dan Dinas Kebersihan Pemerintah Kota Medan yang terletak di jalan Pinang Baris.

Perjalana ke Distamben menggunakan armada taxi yang kalau dari penginapan Ibunda dikenakan biaya 40 ribu. Oya, taxi di Medan tidak pernah mengaktifkan argo bahkan taxi yang sekelas Express juga  langsung menawarkan harga satuan saat saya mau ke Pinang Baris dari Setiabudi. Padahal kalau dipikir-pikir tidak  ada satupun taxi di medan ini yang layak pakai alias mobil tua semua. Kelebihannya hanya satu yaitu full musik. Tapi kalau membaca cerita perjalanan berikutnya kalian justru akan lebih tertarik menggunakan becak motor. Selain praktis juga lebih cepat dan ramah. Cuma ada beberapa yang harus diperhatikan yaitu iritasi mata akibat asap kendaraan dan debu, kemampuan menawar harga, dan kalau hujan lumayan basah.

Di kantor Dinas Pertambangan saya bertemu bapak Suprapto di bagian kesekretariatan yang setelah berbincang-bincang kemudian mempertemukan saya dengan Kabid. Konservasi Energi bapak  Ardin Lubis. Beliau membawahi bagian pelelangan pembangkit dari energi baru yang di pimpin oleh bapak Pani. Seharusnya saya bertemu dengan kedua orang tersebut termasuk Kepala Dinas Washington Tambunan. Hanya saja Kadis pada hari itu harus melakukan rapat sampai jam 2 siang. Sedangkan pak pani sedang berada di lapangan sampai tanggal 4 september. Alhasil saya hanya mendapatkan satu lembar data dan 90 menit hasil wawancara. Kondisi tersebut membuat saya harus mencari data melalui sumber yang lain. Salah satu rujukannya adalah kantor BPS dan kantor Inspektorat Provinsi Sumatera Utara. Hanya saja karena lupa untuk menanyakan alamat dan nomor telepon instansi tersebut, rencana kunjungan baru bisa dijalankan besok pagi. Setelah dari Distamben, perjalanan dilanjutkan menuju kantor Dinas Kebersihan terletak di belakang terminal Pinang Baris. Layaknya kantor lama di daerah, dari sisi bangunan dan lahan terlihat kurang terawat. Untungnya saya dapat bertemu dengan Kepala Operasional bapak Brahma Sembiring. Setelah selesai wawancara dan mengambil data mengenai sampah di kota Medan akhirnya saya kembali menuju penginapan. Dari terminal tidak ada angkot yang langsung menuju penginapan, taxi juga sangat jarang. Akhirnya harus dua kali angkot dan diakhiri dengan taxi.

Setelah beristirahat dan mandi, saya berencana ingin mengunjungi tempat-tempat yang menarik di kota Medan. Menggunakan becak motor, saya menuju ke tempat makan daerah Semarang (jalan Selat Panjang) yang penuh dengan masakan China seperti bubur, nasi campur, ikan tauco, fuyung hai, ayam jamur, sop tahu, sop baso ikan, kailan kecap, babi asam manis, kwetiaw dan ifu mie. Ada dua tempat makan yang tidak jauh jaraknya yaitu tempat makan yang mengggunakan babi dan yang tidak. Selain itu, ternyata ada pula lokasi yang banyak pilihan makanannya mulai dari makanan berat sampai makanan ringan yang terletak di jalan Joni atau Menteng daerah sekitar Dinas Kebudayaan. Kantor Dinas Kebudayaannya juga unik karena memiliki arsitektur berupa rumah adat batak.

Saya naik ojek milik bapak Simamora yang tinggal dekat stasiun Makmur. Setelah makan malam saya dibawa keliling ke daerah Petisa dan Merdeka Walk. Tempat yang terakhir ini menurutku sedikit unik karena selain sebagai tempat nongkrong anak muda, terdapat juga arena track jogging yang dilengkapi dengan alat fitness di sekeliling lapangan terbuka. Tidak cuma satu alat tapi banyak. Selain itu terdapat fasilitas Mushola dan balai tempat perkumpulan. Tapi perjalanan sedikit tergangu karena akhir-akhir ini wilayah Medan sering diguyur hujan mulai dari sore sampai malam. Akhirnya jam 8 malam saya kembali ke penginapan. Biaya keseluruhan perjalanan menggunakan becak motor selama 3,5 jam hanya 80 ribu rupiah.

Di petisa ternyata terdapat tempat esek-esek yang menjelma menjadi hotel dimana tiap kamar terdapat wanita dengan tarif  “one time” 150ribu. Namanya hotel Sebayak..hati2 loh..

Salam,

Leo Sihombing

Perjalanan Dinas Medan (1)

Hari ini aku berada di Medan dalam rangka menjalankan tugas dinas dari kantorku. Sebagai keturunan Batak, kota Medan adalah kota yang paling jarang kukunjungi, padahal keluarga dari Bapak semuanya berada di kota ini. Berangkat dari jakarta jam 12 siang dengan pesawat Lion Air dan tiba di Medan kurang lebih jam 4 sore. Perjalanan dilanjutkan menuju penginapan “Ibunda” yang terletak di Jalan Sisingamangaraja, sekitar 20 menit dari bandara Polonia. Lanjut membaca

Chinesse Food dan Sea Food di Pontianak

Salah satu yang harus dicoba saat menginjakkan kaki di kota Pontianak adalah mencoba masakan cina (Chinesse Food). Sebenarnya di Pontianak terdapat juga berbagai jenis masakan dari dari daerah lain seperti padang (dengan warung padangnya), jawa (dengan warung tegalnya) sampai ke masakan rumah yang dijumpai di lokasi-lokasi tertentu. Akan tetapi yang membedakan Pontianak dengan daerah lain adalah melimpahnya jenis masakan cina mulai dari Capcay, Fu Yung Hai, Kwe Tiaw, Yam mie, Kwecap, Cekwei, Bakpao, Haikeng, Air Tahu, nasi merah, bubur asin dan aneka menu ikan laut. Lanjut membaca

Pusat Oleh-Oleh di Kota Pontianak

Bagi rekan-rekan yang berkunjung ke Kalimantan Barat atau ke kota Pontianak, ada beberapa jenis oleh-oleh yang dapat dibawa sebagai buah tangan sebelum kembali ke daerah asal. Lokasi yang sering dikunjungi dan memang dikhususkan untuk tamu dari luar terletak di jalan Antasari (samping gereja Katedral) dan jalan Sisingamangaraja. Tentu saja ditempat ini harga barang-barang menjadi lebih tinggi bahkan biasa sampai 2x lipat. Tapi bagi yang tidak sempat berkeliling, lokasi ini direkomendasikan mengingat jenis oleh-oleh yang di sediakan cukup lengkap, baik berupa barang (pernak-pernik, kain, baju, hiasan, tikar) maupun makanan (ikan asin jambal, ikan asin bulu ayam, makanan ringan, kue malaysia, kerupuk, lempok, dodol lidah buaya, keladi dsb). Lanjut membaca