Pada bulan Juni sekarang ini, kota Depok sedang disibukkan dengan proyek pelebaran jalan di sepanjang jalan Margonda. Tahap pertama pembangunan telah selesai yang di mulai dari gerbang SELAMAT DATANG sampai ke Jl. Juanda, sedangkan yang saat ini sedang berlangsung dimulai dari arah Jl. Juanda sampai ke terminal Depok. Pembangunan ini ditujukan supaya kemacetan yang setiap hari kita rasakan dapat dikurangi. Seperti yang kita ketahui bahwa Jl. Margonda masih merupakan jalur favorit bagi pengguna kendaraan yang berasal dari arah Citayam, Bogor dan Depok untuk menuju Jakarta. Belum lagi ditambah dengan jumlah angkutan umum yang banyak, menjadikan Margonda tidak lagi “sehat”. Kemacetan dan asap kendaraan menjadi hal yang rutin ditemui setiap saat dan memicu terjadinya stress bagi pengguna jalan. Akan tetapi ada beberapa hal yang dilupakan terkait dengan proyek pelebaran jalan ini antara lain masalah kenyamanan, keamanan, estetika, lingkungan serta manajemen transportasi.
Jalan margonda merupakan jalan utama di kota depok dengan panjang jalan yang akan dilebarkan adalah 9 KM. Awalnya tiap ruas hanya dibuat untuk 2 jalur, tetapi dengan pelebaran bisa mencapai 4 jalur, sehingga total lebar Jl. Margonda saat ini bias mencapai 20-25 meter. Minimnya jalur untuk putar arah memicu pengendara untuk melaju dengan kecepatan lumayan tinggi. Hal ini tentunya akan menyulitkan bagi para pejalan kaki yang ingin menyeberang. Bagaimana tidak? konsentrasi penyeberang jalan tidak hanya pada ruas salah satu jalan saja tapi pada kedua ruas jalan juga, karena apabila mereka berhenti di pembatas jalan dalam waktu yang lama, justru akan membuat gugup dan kemungkinan terjadi kecelakaan (baca: terserempet) akan besar. Faktor keselamatan dan kenyamanan pengguna jalan inilah yang harus diperhatikan yaitu bagaimana membangun infrastuktur jembatan dengan jumlah yang memadai dan pembangunan pembatas jalan memisahkan pejalan kaki dengan pengguna kendaraan. Disepanjang Jl. Margonda saat ini hanya ada dua jembatan penyeberangan yaitu di depan Ramayana dan didepan Margocity, padahal sepanjang Jl. Margonda terdapat tempat-tempat yang layak untuk dikunjungi baik itu untuk berbelanja, makan, bermain atau internetan. Paling tidak kedepannya perlu dibangun jembatan penyeberangan di setiap radius 100 meter. Hal berikutnya mengenai pembatas jalan. Pelebaran saat ini hanya menyisakan jarak yang sangat dekat dengan teras depan bangunan. Tanpa lahan, jalan yang telah dilebarkan justru dipakai sebagai tempat parkir. Lebar trotoar yang hanya 1,5 meter dan langsung bersebelahan dengan jalan, memberikan resiko terhadap terjadinya penyerempetan, penjambretan dan resiko lalu lintas lainnya. Karena itu ide pelebaran jalan yang saat ini sedang dikerjakan harus didukung dengan kelengkapan lain seperti jembatan penyeberangan, trotoar dan pembatas jalan, sehingga baik pengguna kendaraan dan pejalan kaki mendapatkan hak yang sama atas kenyamanan di jalan.
Dampak kedua yang perlu diperhatikan adalah hilangnya tanaman pohon di sepanjang Jl. Margonda yang sudah berusia puluhan tahun. Seperti yang diketahui bahwa fungsi tanaman hijau pada ruang terbuka adalah untuk menyerap emisi, mereduksi partikel baik yang dikarenakan buangan kendaraan bermotor, pembakaran ataupun aktivitas lain disekitar daerah depok. Selain itu, pohon juga berfungsi sebagai supplier oksigen Kaitannya dengan perubahan iklim, jelas pohon memiliki kemampuan dalam menyerap CO2 sehingga tanpa adanya pohon akan membuat kota Depok menjadi terlihat gersang dan tambah panas. Berdasarkan alasan tersebut maka perlu dipikirkan bagaimana cara mengganti fungsi pohon-pohon yang telah hilang tersebut. Salah satu hal yang dapat dilakukan adalah dengan memperbanyak areal hijau di wilayah barier dalam skala besar selain menanam dalam jumlah kecil di sekitar bangunan.
Kemudian yang perlu dicamkan adalah bahwa manajemen transportasi yang baik bukan hanya seputar memperbanyak infrastruktur saja tetapi juga menyeimbangkan infrastruktur yang dibangun dengan pengelolaan jumlah dan moda transportasi supaya permasalahan sekarang tidak terulang lagi. Bayangkan saja jika pelebaran jalan diikuti dengan penambahan lalu lintas, maka 10 tahun mendatang jalan di kota Depok bisa jadi dua tingkat. Beberapa cara yang dapat dilakukan antara lain dengan membatasi jumlah angkot sesuai dengan kebutuhan, memperpanjang jalur trayek, mengoptimalkan angkutan besar seperti KA dengan cara perbaikan kualitas sehingga ada pengalihan pengguna kendaraan dari jalan raya.
ditulis oleh Adolf Leopold Sihombing –> 25 Juni 2010