Hal tersulit untuk dikalahkan adalah diri sendiri. Bagiku melihat orang lain berhasil melakukan dan mendapatkan sesuatu yang tidak bisa kuraih sebelumnya, merupakan suatu kepahitan tersendiri. Dalam hati yang paling dalam, aku selalu berusaha untuk mengucap syukur atas apa yang dicapai orang lain apalagi mereka adalah orang-orang dekatku. Akan tetapi disisi lain setiap melihat pencapaian mereka, ada perasaan “tidak mampu dan kurang beruntung” yang mengarah pada diriku.
Sulit untuk mengAMINi kalau setiap orang punya tempat spesial yang hanya bisa diisi oleh orang itu dan bukan orang lain (termasuk aku). Nasihat dan arahan yang kuberikan kepada teman2ku saat membantu mereka berjuang mendapatkan “sesuatu” seakan terlihat sebagai suatu kemunafikan. Membantu dan kemudian menjadi iri dengan kesuksesan yang mereka raih.
Suatu pembelajaran bahwa saya bisa memilih untuk bersikap “iri / tidak puas” atau “bersyukur” atas keberhasilan orang lain, tapi apapun pilihan saya tidak akan berpengaruh pada kesuksesan yang akan saya raih. Apa yang mereka raih tidak ada hubungannya dengan aku. Dan bahwa Aku adalah dari apa yang aku usahakan dan perjuangkan….
(muara enim, 8 Juni 2010)