
Akhirnya setelah 13 tahun berlalu, untuk pertama kalinya saya kembali menginjakkan kaki di Parapat dengan tujuan berlibur di objek wisata Danau Toba. Rasa kagum terucap tak kala melihat mahakarya Tuhan yang luar biasa. Luas wilayah yang merupakan terbesar di Asia berpadu dengan arus air yang tenang, menjadikan danau Toba seperti sesosok raja yang sangat cool. Pinggiran danau Toba dikelilingi oleh banyak tempat penginapan mulai dari kelas losmen sampai hotel bintang lima. Selain itu terdapat pula beraneka rumah makan dan tempat penjualan souvenir. Hanya saja yang perlu diingat saat memilih penginapan adalah pastikan view mengarah ke danau dan tersedianya fasilitas air, karena walaupun lokasi penginapan yang dekat dengan danau tidak menjamin ketersediaan air yang cukup. Harga penginapan juga bervariasi mulai dari 300ribu sampai dengan 700ribu per malam. Beberapa hotel yang saya rekomendasikan antara lain Hotel Pandu, Hotel Ina dan Beach Hotel. Bagi yang ingin menginap di wilayah Tuk-Tuk, semua penginapan disini masuk dalam rekomendasi saya. Hampir sebagian besar penginapan tidak menggunakan pengkondisi udara (AC) karena cuaca dingin yang ada setelah maghrib. Tetapi menurut saya danau Toba saat ini tidak sedingin tahun 1996, apa mungkin ini efek dari pemanasan global?? (ceilee..). Tetapi saat ini danau Toba terlihat lebih terawat, ini dibuktikan dengan tidak adanya sampah dari kapal yang dibuang ke tengah dan pinggir danau. Memang di sepanjang jalan terdapat toko yang menjual souvenir, tetapi jangan puas dulu karena di daerah Tomok justru masih banyak lagi cinderamata yang dapat diperoleh.

Soal makan jangan pusing dengan urusan haram atau halal, karena di tiap rumah makan atau warung kopi pasti terpampang dengan jelas menu-menu yang disajikan dan peruntukkannya (jadi jangan kuatir tercemar sama “sapi pendek”
-). Kalau masih ragu juga, terdapat beberapa warung makan padang. Seingat saya hampir sebagian besar biaya perjalan tersedot untuk urusan sehari-hari seperti makan dan belanja, yang mana untuk sekali makan “berat” saja menghabiskan sekitar 30ribu rupiah per orang, sedangkan untuk sarapan pagi yang terdiri dari lontong sayur dan kopi susu dikenakan biaya 11-13ribu. Walaupun kurang etis, lebih baik ditanya dulu harganya biar ga kaget karena tidak ada tawar menawar setelah makanan habis dilahap. Bisa dibayangkan dalam satu hari saya bisa menghabiskan kurang lebih 500 ribu rupiah. Ini sudah diluar biaya penginapan dan transportasi. Luar biasa expensive. Tapi untuk menikmati liburan dengan keindahan alam yang luar biasa tadi, maka harga sebesar ini sepertinya cukup realistis.
Salam,
Adolf Leopold Sihombing