Petualangan di BALI

Setibanya di Bali, saya menuju ke tempat penginapan. Sedikitnya informasi dan referensi yang diperoleh membuat saya mengandalkan pak supir Taxi Blue Bird berkeliling untuk mencari penginapan. Akhirnya saya tiba di Melati View. Terletak di jalan Kartika Plaza gang Melati no.1, Kuta-Bali, hotel Melati View bertarif 350 ribu/malam (superior room) dan 550 ribu/malam (family deluxe). Tapi jangan salah karena di Bali tarif hotel sangat bervariasi, tergantung pada momen yang sedang terjadi. Dengan tarif yang “sedang” tersebut, saya sudah merasakan kenyamanan baik dari segi akses, kebersihan, sarapan yang enak, fasilitas yang memadai. Jarak hotel ke pantai kuta dapat ditempuh selama 15-20 menit dengan berjalan kaki. Informasi dapat diperoleh telp. 0361-766656 atau stay@Melati View Hotel.com

http://www.melativiewhotel.com

Mandala Wisata Wenara Wana (Sacred Monkey Forest Sanctuary)

Kera Bali yang sering juga disebut kera ekor panjang memiliki nama ilmiah “macaca fascicularis”. Jumlah kera yang berada di lokasi Mandala Wisata Wenara Wana (The sacred monkey forest sanctuary) berjumlah sekitar 300 ekor. Banyaknya jumlah kera dalam hutan tersebut sering menyebabkan terjadinya konflik kelompok terutama dalam penguasaan suatu daerah.

Kera jantan muda memiliki berat 8-10 kg, gigi yang besar dan jenggot dibagian pundak serta muka. Berat kerat betina sekitar 4-8 kg dan mempunyai rambut yang panjang. Pembuahan dapat terjadi sepanjang tahun namun pertumbuhannya terjadi sekitar bulan Mei-Agustus. Kera-kera tersebut tidak hanya penting dalam kegiatan spiritual tapi juga bagi riset dan program konservasi.

Selain kera Bali, dilokasi ini juga terdapat tiga pura suci antara lain Pura Dalem Agung, Pura Beji dan Pura Prajapati. Selain ketiga pura tersebut terdapat pula makam dan ukiran-ukiran.

Mandala Wisata Wenara Wana
Jl. Monkey Forest, Padangtegal
Ubud, Bali, Indonesia (80571)
www.monkeyforestubud.com
Jam buka : setiap hari pukul 8 am – 6 pm

Harga tiket masuk : Rp. 20.000 (wisatawan dalam negeri), Rp. 40.000 (wisatawan luar negeri), pisang Rp. 20.000/bh

Ingin Lancar ??? Tebang Pohon !!!

Pada bulan Juni sekarang ini, kota Depok sedang disibukkan dengan proyek pelebaran jalan di sepanjang jalan Margonda. Tahap pertama pembangunan telah selesai yang di mulai dari gerbang SELAMAT DATANG sampai ke Jl. Juanda, sedangkan yang saat ini sedang berlangsung dimulai dari arah Jl. Juanda sampai ke terminal Depok. Pembangunan ini ditujukan supaya kemacetan yang setiap hari kita rasakan dapat dikurangi. Seperti yang kita ketahui bahwa Jl. Margonda masih merupakan jalur favorit bagi pengguna kendaraan yang berasal dari arah Citayam, Bogor dan Depok untuk menuju Jakarta. Belum lagi ditambah dengan jumlah angkutan umum yang banyak, menjadikan Margonda tidak lagi “sehat”. Kemacetan dan asap kendaraan menjadi hal yang rutin ditemui setiap saat dan memicu terjadinya stress bagi pengguna jalan. Akan tetapi ada beberapa hal yang dilupakan terkait dengan proyek pelebaran jalan ini antara lain masalah kenyamanan, keamanan, estetika, lingkungan serta manajemen transportasi. Continue reading

Bahwa iri tidak menambah sejengkal dari kesuksesanmu

Hal tersulit untuk dikalahkan adalah diri sendiri. Bagiku melihat orang lain berhasil melakukan dan mendapatkan sesuatu yang tidak bisa kuraih sebelumnya, merupakan suatu kepahitan tersendiri. Dalam hati yang paling dalam, aku selalu berusaha untuk mengucap syukur atas apa yang dicapai orang lain apalagi mereka adalah orang-orang dekatku. Akan tetapi disisi lain setiap melihat pencapaian mereka, ada perasaan “tidak mampu dan kurang beruntung” yang mengarah pada diriku.

Sulit untuk mengAMINi kalau setiap orang punya tempat spesial yang hanya bisa diisi oleh orang itu dan bukan orang lain (termasuk aku). Nasihat dan arahan yang kuberikan kepada teman2ku saat membantu mereka berjuang mendapatkan “sesuatu” seakan terlihat sebagai suatu kemunafikan. Membantu dan kemudian menjadi iri dengan kesuksesan yang mereka raih.

Suatu pembelajaran bahwa saya bisa memilih untuk bersikap “iri / tidak puas” atau “bersyukur” atas keberhasilan orang lain, tapi apapun pilihan saya tidak akan berpengaruh pada kesuksesan yang akan saya raih. Apa yang mereka raih tidak ada hubungannya dengan aku. Dan bahwa Aku adalah dari apa yang aku usahakan dan perjuangkan….

(muara enim, 8 Juni 2010)

Museum Batak

Di dalam museum batak terdapat banyak sekali peninggalan alat dan perlengkapan yang biasa digunakan untuk aktivitas sehari-hari seperti tempat penyimpanan makanan dan harta, alat menumbuk padi, senjata berburu, piring ukuran besar tempat untuk makan bersama, pakaian dan patung, tempat tidur, alat musik seperti gondang dan suling, dan lain sebagainya. Tempat perhiasan berupa wadah dimana terdapat ukiran berbagai jenis hewan seperti buaya, ular, yang konon apabila terdapat orang yang berniat mencuri harta tersebut maka wujud dari wadah ini dapat berubah-ubah seperti hewan tadi. Di museum ini pula pengunjung dapat berfoto dengan menggunakan pakaian adat lengkap dengan asesoris batak hanya dengan membayar uang sukarela.

Makam Raja Sidabutar

Makam raja-raja terletak tidak jauh dari rumah adat Batak. Disinilah pemimpin adat wilayah Tomok dimakamkan. Sebelum memasuki lokasi ada prosesi pemakaian ulos. Selain makam raja Sidabutar, terdapat juga makam raja kedua yang walaupun masih keluarga tetapi bukan keturunan langsung raja Sidabutar. Terdapat juga makam raja berikutnya yang dihiasi ornamen salib, menandakan pada masa pemerintahannyalah masyarakat Batak mengenal agama (Kristen) yang dibawa oleh misionaris asal Jerman yaitu Nomensen. Raja Siadabutar di kenal sebagai pemimpin secara adat, sedangkan Sisingamangaraja yang sudah tidak asing lagi di telinga merupakan pahlawan Tapanuli saat perlawanan terhadap Belanda. Jadi perlu dibedakan pengertian pemimpin di tanah Batak.

Rumah adat Batak dan Sigalegale

Rumah adat Batak dirangcang dengan filosofi yang unik. Bentuk atap menunjukkan sikap menyembah (marsomba) sedangkan pintu kecil yang terdapat di rumah adat dimaksudkan supaya siapapun yang datang berkunjung haruslah terlebih dahulu memberi hormat kepada yang punya rumah. Sampai sekarang rumah adat ini masih didiami oleh keturunan raja Sidabutar yang kalau jaman sekarang diposisikan sebagai pemangku adat. Raja Sidabutar merupakan pemimpin yang berkuasa di wilayah Tomok dan sekitarnya. Pada saat terjadi perang pergilah anak dari raja Sidbutar untuk berperang. Akan tetapi anak terebut mati. Mendengar hal tersebut Raja Sidabutar menjadi stress dan gila, karena anak tersebut merupakan anak semata wayang. Berbagai keahlian dari dukun sudah dikerahkan akan tetapi tidak membuahkan hasil bagi kesembuhan sang Raja. Continue reading